Jumat, 10 Agustus 2007 (Republika)
Tafsir Alquran Bagi Anak-anak
Melalui salah satu divisinya, Penerbit Mizan meluncurkan koleksi pustaka baru bagi anak-anak, I Love My Quran (ILMA). Buku yang membidik segmen belia ini boleh dikata merupakan buku tafsir Alquran pertama bagi anak-anak.
Tak seperti buku tafsir pada umumnya, ILMA disajikan dengan gaya komikal. Tiap halaman dihiasi gambar warna-warni. Kalimat yang digunakan pendek-pendek saja, dan menggunakan bahasa-bahasa yang gampang dipahami anak-anak.
Misalnya saja, kalimat pembuka Loh, kok, tidak adil? digunakan saat mengupas penjelasan surat Al-Muthaffifin (berarti orang-orang yang curang). Dalam alinea yang singkat dijelaskan tentang sikap tidak adil dalam bentuk yang sederhana: mengurangi timbangan. Di akhir alinea dijelaskan bahwa di Hari Kiamat pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban.
Ada setidaknya tiga alasan mengapa buku ini menjadi menarik. Tak seperti Alquran biasa, Alquran ILMA tampil dengan ilustrasi dekoratif. Dengan begitu, kegiatan membaca Alquran bagi anak-anak tidak kalah saing dengan bahan bacaan lain.
Kedua, menambah pengetahuan Alquran. Kosa kata Alquran dikenalkan secara bertahap pada setiap halaman. Dalam kamus yang sidertakan dalam paket ILMA, anak-anak akan diperkenalkan pada ratusan kosa kata yang sudah dikelompokkan. Selain itu, hubungan antarayat juga dijelaskan.
Ketiga, nah ini dia, disediakan boks khusus berlabel untuk ayah dan ibu. Jadi, agar Anda dan anak Anda bisa sama-sama belajar tanpa Anda harus terlihat sangat bodoh di depan anak-anak, maka boks ini memberi informasi tambahan yang perlu diketahui ayah dan ibu dalam mendapingi anak-anaknya membaca buku ini.
Satu paket ILMA terdiri dari empat bagian. Selain 15 jilid mushaf Alquran setebal masing-masing 44 halaman, terdapat juga kamus kata-kata unik dalam Alquran setebal 80 halaman. Paket juga dilengkapi dengan CD audio 16 lagu terjemahan surat-surat pendek dan papan permainan ular tangga mengenal nama 114 surat Alquran dengan papan magnetik.
Dalam pengantarnya, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, HA Hasyim Muzadi menekankan pengenalan Alquran kepada anak-anak merupakan bagian penting dari upaya mendekatkan umat pada sumber ajaran agama yang dipeluknya. Apalagi di saat moralitas keagamaan cenderung terkikis saat ini. Tentu saja, pengenalan Al-Quran kepada anak-anak mesti disesuaikan dengan tingkat nalar dan alam pikiran mereka, sehingga memerlukan pendekatan atau metode tersendiri, ujarnya.
Sedang ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin menyoroti buku ILMA sebagai sebuah inovasi yang brilian. Sebuah usaha kreatif untuk mendekatkan keluarga Muslim pada kitab sucinya, ujarnya. Bagi Anda, para orang tua Muslim yang peduli pada pendidikan agama anak-anaknya, buku ini layak ada dalam rak buku di rumah Anda. tri
Judul: I Love My Quran (paket)
Peneribut: Pelangi Mizan
Editor kepala: Irfan AmaLee
Cetakan I: Agustus 2007
Republika Newsroom Ver.1.0 | User Online : 3 © ( )
Resensi Buku untuk Jawa Pos
Mengantar Anak Mencintai Al-Qur’an
Judul Buku : I Love My Al-Qur’an
Editor : Irfan AmaLee (Editor Kepala),
Ana P. Dewiyanto (Editor Eksekutif)
Penerbit : Pelangi Mizan, Bandung
Cetakan : I, 2007
Buku I Love My Al-Qur’an (ILMA) terdiri dari satu set yang –bisa dibilang- saling melengkapi. Buku ini semacam tafsir Al-Qur’an yang didesain khusus untuk anak-anak. Tafsir itu terdiri dari lima belas jilid. Sebagai contoh, Al-Qur’an Surat Al-Baqarah terdapat pada jilid 1 dan 2. Surat Ibrahim ada pada jilid 7. Surat Muhammad ada pada jilid 13. Dan, Juz ‘Amma ada di jilid 15.
Buku ini dilengkapi seperangkat media penunjang seperti mushaf Al-Qur’an yang cantik-menarik, Kamus Kata-kata Unik di Al-Qur’an, dan CD berisi lagu anak-anak yang syair-syairnya “diilhami” oleh Surat-Surat pendek Al-Qur’an.
Kreatif, Inspiratif
Para orang tua menyadari, betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an pada anak-anak sejak dini. Segenap orang tua meyakini bahwa menanamkan kecintaan anak kepada Al-Qur’an adalah langkah paling awal sebelum melangkah ke hal berikutnya seperti mengaplikasikan isi Al-Qur’an dalam keseharian.
Oleh karena itu, kecintaan kepada Al-Qur’an perlu dibina sejak anak-anak, saat jiwa mereka masih bersih. Terlebih lagi, kini kita hidup di zaman yang tak ramah, -antara lain- karena kaum sekular dan liberal terus berusaha memisahkan umat Islam dari Al-Qur’an.
Bersama ILMA, insyaAllah anak-anak akan segera akrab dengan Al-Qur’an. Karena, buku ini merupakan wujud dari sebuah impian lama tentang anak yang sejak usia dini sudah mendapat pelajaran Al-Qur’an, yang disertai gambar-gambar sehingga mampu menarik perhatian, sehingga pesan yang dikandungnya mudah diserap, lalu melekat dalam ingatan anak-anak.
Memang, terasa sekali, penerbitan ILMA didasarkan pada hasil sebuah riset kecil, mendengarkan kebutuhan publik, serta mengamati kondisi masyarakat kini. Maka, berdasarkan “potret” masyarakat yang telah diperoleh dari serangkaian kegiatan itu, kita tak bisa memungkiri kenyataan bahwa generasi muda kita telah diserang sejumlah virus seperti film (VCD, DVD), aneka game komputer, playstation, komik, dan sebagainya.
Kita sadari, untuk melawan serangan itu, tak mungkin dilakukan jika kita tetap menggunakan “bahasa lama” dalam menyajikan ajaran Al-Qur’an kepada anak-anak. Tidak tepat kiranya, jika kita ingin membuat anak-anak mencintai Al-Qur’an, tapi bahasa yang kita gunakan bukanlah bahasa mereka. Bukankah Islam telah meminta kita, agar dalam menyampaikan pesan-pesan Allah kepada “objek dakwah” harus menggunakan bahasa kaum yang kita hadapi?
Sekarang, mari sejenak buka ILMA –misalnya- jilid 15, yang berisi Juz ‘Amma. Kita perhatikan halaman 601. Di sana dapat kita baca terjemah Al-Qur’an Surat ke 103, yaitu Al-Ashr. Lalu, di samping terjemah itu, dapat pula anak-anak membaca tafsirnya: “Perhatikan (berlalunya) waktu, yuk! Waktu tidak mungkin berjalan mundur, tapi akan terus maju. Rugi, loh, jika tidak dipergunakan sebaik-baiknya. Yuk, manfaatkan waktu dengan selalu meraih iman, berbuat baik, dan saling mengingatkan untuk berbuat baik, dan saling mengingatkan untuk bersabar dalam mengatasi setiap kesulitan.” Tampak, bahasa yang dipilih pada tafsir di atas sederhana, jenaka, khas kanak-kanak, namun tetap tak meninggalkan kesan keagungan Al-Qur’an.
Sadar bahwa metode pendidikan itu variatif, dan yakin bahwa dunia anak-anak adalah bermain serta bernyanyi, maka ILMA pun dilengkapi CD berisi sejumlah lagu yang syair-syairnya diambil dari terjemah Surat-Surat pendek Al-Qur’an.
Lagu-lagu itu bisa membantu anak-anak belajar memahamai makna Surat-surat pendek Al-Qur’an dengan lebih mudah. Bukankah kata-kata di Al-Qur’an itu sangat indah? Maka, menyanyikannya pun pasti menyenangkan.
Syair-syair lagunya bercita-rasa Qur’ani, dan lalu diberi nada serta iringan musik dengan sejumlah pilihan nuansa seperti –antara lain- irama padang pasir. Kita lihat –sebagai contoh- syair lagu yang didasarkan pada terjemah Al-Qur’an surat Al-Ikhlaash.
Hei, katakan, yuk!/
Dialah, Allah Yang Satu/
Tempat kita minta bantu/.
Hei, katakan, yuk!/
Tak berputra, tak berayah, tak beribu/
Kehebatan-Nya tak bisa ditiru.
ILMA tampil segar, dihiasi warna-warni ceria dan ilustrasi yang imajinatif. Anak-anak bisa membacanya dengan rileks. ILMA menyajikan kandungan Al-Qur’an dengan pendekatan komikal, baik dari segi gaya dialog maupun ilustrasi gambar yang menarik dan mudah diingat.
Gaya bahasa ILMA komunikatif, sederhana, mudah dipahami, informatif, bersahabat, dan interaktif. Anak-anak bisa memahami Al-Qur’an dalam suasana ceria. ILMA sebuah usaha kreatif untuk mendekatkan keluarga Muslim (terutama anak-anak) kepada kitab sucinya. Dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang dekoratif-imajinatif dan kaya warna, ILMA bisa menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering.
Love, Love!
ILMA juga dilengkapi Kamus Kata-kata Unik di Al-Qur’an. Kata-kata itu ada yang berhubungan dengan benda-benda langit, binatang, tempat-tempat bersejarah, tumbuhan, orang-orang penting, dan masih banyak lagi yang lain.
Di halaman 45, misalnya, kita bisa mendapati kata-kata dalam kelompok “Satuan Waktu”. Sebagai contoh, di halaman itu ada kata al-yauma. Kata dalam tulisan Arab itu lalu disertai padanan katanya dalam bahasa Inggris (yaitu today) dan dalam bahasa Indonesia (yaitu hari ini). Juga dicantumkan, bahwa di Al-Qur’an kata itu disebut berapa kali (tertulis 374). Tak ketinggalan, ditunjukkan pula contoh keberadaan kata itu di Al-Qur’an, ada di Surat apa dan ayat berapa (al-yauma –antara lain- bisa dilihat pada Al-Qur’an Surat ke-5 ayat 3). Sungguh, anak-anak akan diajak untuk berkenalan dengan ratusan kata unik yang terdapat di dalam Al-Qur’an.
ILMA –kata Fauzil Adhim- berhasil menghadirkan sesuatu yang tak hanya menunjukkan kehebatan Al-Qur’an. Tetapi, lebih dari itu, ILMA menyajikan Al-Qur’an dalam wajah yang bersahabat dengan anak, lengkap dengan “tafsir”-nya. Bagi ahli keayah-bundaan ini, ILMA adalah sebuah langkah cerdas untuk mendekatkan anak pada Al-Qur’an.
Ada harapan, dengan ILMA, anak-anak cepat tumbuh menjadi anak shalih dan cerdas. Sedemikian rupa, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bisa mereka rasakan manfaatnya. Jika itu yang terjadi, maka secara refleks anak-anak itu akan sering berseru lantang, “I love my Al-Qur’an”. Alhamdulillah!
Oleh M. Anwar Djaelani,
Pecinta Buku,
Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Unair – pertengahan 1980-an