Home arrow I Love My AlQur’an arrow Pengantar Editor

Hosting Unlimited

Login Form






Lost Password?

Live Support

Amazing Gold G

Keistimewaan Jely Gamat

Google Analytics

 
Pengantar Editor

ILMA: Sebuah Upaya Memuliakan Al-Quran dengan Mendorong Anak Islam Mencintai dan Mempelajarinya.

 

Tulisan ini disusun untuk menjelaskan konsep yang melatarbelakangi penerbitan ILMA (I Love My Al-Quran) sekaligus merekam semua proses yang dilaluinya, meliputi studi literatur, riset kecil, FGD dengan masya­rakat, dan (yang tidak kalah penting) konsultasi dengan sejumlah ulama. Dengan tulisan ini, diharapkan masya­rakat bisa melihat ILMA dengan perspektif yang lebih komprehensif.

Mengapa ilma Mendesak untuk Diterbitkan?

Penerbitan ilma ini dilatarbelakangi oleh riset kecil, men­dengar kebutuhan masyarakat, serta mengamati kon­disi masyarakat kini. Tidak bisa kita pungkiri bahwa generasi muda kita diserang sejumlah media yang SANGAT MENARIK seperti film (VCD, DVD) game-game kom­puter, playstation, komik, dan sebagainya. Itu artinya, anak-anak kita akan semakin tidak tertarik untuk memberi perhatian kepada Al-Quran jika kita tidak melaku­kan sesuatu agar mereka tertarik mempelajari kitab sucinya.

Kekhawatiran kami persis dengan apa yang dirasakan oleh K.H. A. Mustofa Bisri. Ketika kami meminta pendapatnya tentang pe­ner­bit­an ILMA, beliau menulis sebagai berikut:

“Hampir semua rumah orang Islam menyimpan Al-Quran dan kita tahu banyak sekali orang Islam yang membacanya. Di negeri kita ini saja, banyak sekali hamilul Quran, orang yang hafal Al-Quran. Yang kita tidak tahu persis di negeri kita sendiri yang mayoritas Islam ini, berapa orangkah yang memahami kandungan Al-Quran? Saya sendiri menanti lembaga seperti MUI mengadakan survei semacam ini…saya pikir ini jauh lebih penting daripada sekadar mengurus label halal. Kita tidak bisa terus-menerus hanya membanggakan diri memiliki pedoman yang hebat, paripurna, tanpa secara serius memikirkan bagaimana memberdayakan pedoman itu. Nah, berkaitan dengan itu, saya ikut bersyukur atas prakarsa penerbitan buku ILMA ini. Kita tidak usah menunggu ada lembaga yang melakukan survei. Kita sebagai pemilik Al-Quran mesti melakukan apa yang bisa kita lakukan bagi tujuan utama memasyarakatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Quran itu.” (K.H. A. Mustofa Bisri)

ILMA Menggunakan Bahasa Visual dan Bahasa Anak

Untuk meng-counter serangan media-media tersebut, kita tidak mungkin tetap menggunakan “bahasa lama” dalam me­nyajikan ajaran Al-Quran kepada anak-anak. Tidaklah tepat kiranya, jika kita ingin mem­buat anak-anak mencintai Al-Quran, tapi bahasa yang kita gunakan bukanlah bahasa mereka. Al-Quran memerintahkan kita untuk menyam­paikan pesan-pesan Allah kepada audiens “MENG­GUNAKAN BAHASA KAUMNYA” atau “sesuai dengan tingkat pe­mikiran mereka” (Biqadri ‘uqulihim). Li kulli maqam, maqal; wa likulli maqal, maqam.

Gambar, warna, adalah bahasa anak-anak yang universal. Gambar di sini adalah “bahasa” (sebagaimana bentuk bahasa lain, seperti bahasa verbal atau bahasa isyarat) yang kita gunakan untuk me­nyam­pai­kan pesan-pesan Al-Quran sesuai dunia anak.

Dengan pertimbangan itulah kami memutuskan ILMA ini di­lengkapi/dihiasi dengan bahasa visual sebagai salah satu media yang akrab dan menarik bagi anak-anak.

 

Pendapat Para Ulama tentang Cara Penyajian ILMA

Sejak awal, kami sadar bahwa penggunaan gambar di sini bisa menimbulkan sejumlah pertanyaan. Karena itulah kami melakukan riset kecil seputar jenis gambar apa yang akan digunakan dan bagai­mana peletakan gambar itu dalam hubungannya dengan mushaf (akan kami jelaskan pada bagian khusus). Kami juga berkonsultasi dengan sejumlah ulama untuk memastikan bahwa penggunaan gambar ini adalah sebuah upaya yang sah (secara syariat) dalam usaha membuat anak-anak kita mencintai Al-Quran. Menanggapi perihal gambar ini, Dewan Pakar Pusat Studi Quran yang dipimpin Ust. Quraish Shihab memberi tanggapan sebagai berikut:

“Penampilan gambar-gambar dalam ILMA ini pun mendapat perhatian pakar, yang pada akhirnya dapat diterima selama kesakralan Al-Quran terpelihara, apalagi gambar yang ditampilkan hanyalah ilustrasi dan tidak ada juga yang merujuk ke tokoh-tokoh suci. Bukan menganalogikan, tetapi jiwa dari pembenaran tersebut sejalan dengan izin rasul memberi boneka pada anak-anak kecil, padahal untuk orang dewasa shurah (patung) pada masa itu beliau larang.”

Tentang fungsi gambar pada ILMA ini, Ali Audah memberi tanggapan:

“Gagasan mengenai anak sejak dini sudah mendapat pelajaran Al-Quran yang disertai gambar-gambar, tentu akan lebih menarik, lebih mengasyikkan, mudah diserap dan melekat dalam ingatannya. ‘Satu gambar lebih jelas daripada seribu kata,’ kata orang bijak. Wawasan anak pun akan berkembang sejalan dengan khayal pikirannya.”

Habib Rizieq, Ketua Umum FPI pun memberi beberapa pesan tentang penggunaan gambar ini:

“… penuh ilustrasi dan warna warni, tapi berbeda dengan komik-komik hiburan, saya yakin buku ini bisa membuat anak semakin cinta Al-Quran, asalkan Penerbit Mizan dalam penyajian ilustrasi tidak mengurangi kesakralan Al-Quran”

Dalam obrolannya dengan redaksi, Habib Rizieq menjelaskan apa yang dia maksud dengan “tidak mengurangi kesakralan”. Dia menjelaskan bahwa gambar-gambar itu janganlah menggambarkan hal-hal yang tidak pantas digambarkan, misalnya meng­gam­barkan arasy de­ngan menggambarkan kursi atau meng­gambar ungkap­an “Tuhan lebih dekat de­ngan urat nadi”, lalu di­gambar­kan de­ngan ulat leher. Atau gambar-gambar yang tidak menunjukkan etika umat Islam, misal­­nya ketika meng­gambar wanita Mus­lim­ah, hendaknya se­lalu digambarkan berbusana Muslimah.

Sejumlah masukan ulama tersebut sangat­lah berharga dan telah kami aplikasikan dalam proses penyusunan ILMA. Gambar-gam­bar nabi kami hilang­kan; dan kami me­mastikan bahwa semua hal-hal abstrak, seperti surga, neraka, setan, jin, dsb. tidak kami gambar­kan. Sejumlah gambar wanita Mus­lim­ah pun kami pasti­kan semua mengguna­kan busana muslimah, seperti yang disaran­kan Habib.

PED1 Tentang hukum penggunaan gambar sebagai media belajar, Dr. Yusuf Qaradhawi menyampaikan fatwanya:

“Walau bagaimanapun, jika saudara yang bertanya memiliki majalah tertentu yang mengandung unsur-unsur pengetahuan yang bermanfaat tetapi tidak ada di dalamnya yang hanya secara kebetulan, maka itu tidak menjadi kesalahan.” (diterjemahkan dari terjemah Malaysia, Fatwa Masa Kini, Jilid 3 & 4 by Dr. Yusuf Al-Qardawi. Penterjemah: Ustazah Rosmawati Ali, Ustazah Siti Zubaidah Ismail)

 

Jenis Gambar yang Digunakan pada ILMA

Jenis ilustrasi yang digunakan pada ILMA ini adalah jenis gambar vinyet, yaitu jenis ilustrasi yang berusaha mendenaturalisasi objek yang digambar. Menurut Isma’il Raji Al-Faruqi, dalam Atlas Budaya Islam, salah satu ciri seni Islam adalah karakter denaturalisasi. Berikut kami kutipkan dari tulisan Faruqi:

“Telah kami cirikan seni Islam sebagai seni yang menekankan abstraksi atau denaturalisasi dalam pemilihan dan pemakaian materi subjeknya.…” (Atlas Budaya Islam, h. 413)

Denaturalisasi pada seni visual Islam dilatar­belakangi oleh tradisi Islam yang meng­­hindari penggambaran makhluk hidup secara utuh (persis seperti realitas aslinya). Hal ini berhubungan dengan pesan nabi ten­tang peng­gambar­an makhluk hidup, yang kon­sek­uensi­nya seorang yang meng­gam­bar dimintai un­tuk memberikan nya­wa di hari akhir nanti. Denaturalisasi ini bisa dilakukan dengan mendistorsi bentuk atau meniadakan pers­­pek­­tif (kedalaman ruang), se­hingga bidang menjadi ter­kesan flat, datar (2 dimensi), seperti contoh di samping ini.

Prinsip denaturalisasi yang sama juga dilakukan oleh Wali Songo yang berdakwah dengan menggunakan wayang kulit (bidang datar, tidak seperti patung yang memiliki 3 dimensi: panjang, lebar, dan tinggi).

Pendapat Masyarakat tentang Penyajian ILMA dengan Bahasa Visual

PED2 Selain meminta pen­dapat ulama, kami juga ingin mendengar suara “common sense” tentang cara penyajian ILMA ini. Melalui book advisor Mizan yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia, kami pun mencoba mendengar pendapat masyarakat tentang ILMA. Kami memperlihatkan bentuk utuh dari bebe­rapa halaman ILMA. Kami ingin mengetahui pen­dapat mereka, apa­kah menurut mereka bentuk penyajian ILMA ini dianggap “melang­gar” atau dianggap “menurunkan kesakralan Al-Quran” atau mereka menganggap ini sebagai sebuah inovasi media belajar yang bermanfaat bagi anak-anak. Hasilnya, sekitar 700 responden yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dengan berbagai latar belakang (yang tersebar di Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang, dan Makassar) merespons positif. Tidak ada yang menganggap ILMA mengurangi kesakralan Al-Quran. Mereka menganggap ILMA sebagai sebuah media belajar yang bisa membantu mereka mem­perkenalkan pemaknaan Al-Quran sejak dini pada putra-putri mereka.

Sejarah Inovasi yang Dilakukan Umat Islam untuk Mem­permudah Membaca dan Memahami Al-Quran

Kami juga sadar penuh bahwa inovasi yang kami lakukan bisa menimbulkan polemik. Namun, polemik terhadap sebuah inovasi memang telah terjadi berulang kali dalam sejarah Islam kita. Dalam tulisan berikut ini, kami mencoba memaparkannya.

Dari bentuk fisiknya (bukan substansinya), Al-Quran yang kita baca hari ini jauh berbeda dengan Al-Quran yang pertama kali turun pada masa Nabi. Umat Islam dari masa ke masa telah melakukan inovasi agar Al-Quran semakin mudah dibaca dan dipelajari. Dan yang perlu dicatat, setiap inovasi itu tidak begitu saja diterima. Selalu saja ada perbedaan pendapat. Ada yang menerima inovasi dengan argumen “demi kebaikan umat” dan ada yang menolak dengan alasan enggan melakukan apa yang tidak dilakukan Nabi (bid’ah). Berikut ini beberapa contoh kasusnya:

1.  Pasca Perang Yamamah, banyak qari dan hafizh yang mati syahid. Keadaan ini membuat Umar r.a. khawatir akan hilangnya sejumlah ayat Al-Quran. Karena itu, beliau meng­hadap Khalifah Abu Bakar dan mengusulkan agar segera mengumpulkan ayat Al-Quran yang masih tersebar, baik dalam hafalan maupun tulisan, menjadi satu mushaf. Me­nanggapi usulan Umar ini, Abu Bakar didampingi Umar, meminta Zaid bin Tsabit untuk memimpin misi kodifikasi Al-Quran ini. Umar selalu me­ngatakan, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.

Dalam hadis Bukhari melalui sanad Ubaid bin Sabaq berikut ini, dijelaskan bahwa Umar terus meyakinkan Abu Bakar. Hingga suatu hari, Abu Bakar kembali meyakinkan Zaid, “Hai Zaid, engkau pemuda yang cerdas dan engkau dulu menulis wahyu di hadapan Rasul. Maka, carilah catatan Al-Quran dan kumpul­kanlah!” Namun, Zaid menjawab permintaan Abu Bakar dengan berkata, “Demi Allah, kalaulah aku dibebani untuk memindah­kan suatu gunung, tidaklah lebih berat dibandingkan dengan me­ngumpul­kan Al-Quran. Hai Abu Bakar, bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasul?” Abu Bakar menjawab persis seperti jawaban Umar, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.

Selanjutnya, diceritakan dalam hadis bahwa Zaid mengata­kan, “…setelah itu, Abu Bakar mengulang-ulang permintaannya sampai hatiku terbuka seperti halnya Umar. Dan aku mulai me­ngumpulkan Al-Quran…”.

Mengenai kasus ini, Abu Abdullah Az-Zanjani menulis, “… dari riwayat ini, jelaslah bahwa Abu Bakar takut melakukan apa yang belum pernah dilakukan Rasul karena sangat taatnya pada Nabi. Kemudian Umar berijtihad dengan mengatakan, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.

2.  Kasus lain tentang inovasi pada Al-Quran terjadi ketika proses membubuhkan tanda i’rab (harakat) dan i’jam (titik yang mem­bedakan antara huruf sin dan syin, ba, ta, tsa, dll.). Pada masa Rasul, Al-Quran ditulis menggunakan tulisan Arab tanpa syakal/harakat dan tanpa titik pembeda antarhuruf. Namun, hal itu sama sekali tidak bermasalah karena orang Quraisy memiliki kemampuan bahasa yang tinggi.

Namun, keadaan menjadi berbeda ketika Islam tersebar me­lampui daerah Arabia. Banyak orang non-Arab yang kesulitan membaca Al-Quran. Akibatnya, terjadi banyak kesalahan dan per­bedaan cara membaca. Hal ini membuat Ziad bin Sumayyah, Gubernur Basrah, sangat khawatir. Lalu, dia meminta Abu Aswad Ad-Duwali untuk memberi harakat pada Al-Quran (Abu Aswad Ad-Duwali adalah seorang ahli nahwu murid Ali bin Abi Thalib). Namun, Abu Aswad Ad-Duwali menolak permintaan ini. Tidak dijelaskan secara pasti apa alasan penolakan Abu Aswad, namun ada kemungkinan penolakan ini memiliki alasan persis seperti penolakan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit, yaitu karena takut melakukan apa yang tidak dilakukan Rasul (bid’ah).

Pendirian Ziad, persis seperti pendirian Umar. Dia lebih melihat masalah ini dari sisi kemaslahatan umat seperti perkataan Umar kepada Zaid bin Tsabit dan Abu bakar, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”. Karena demikian yakinnya Ziad terhadap ke­pu­tusan­nya, Ziad sampai menggunakan “ta­ngan besi” untuk me­maksa Abu Aswad me­lakukan misi ini. Seperti di­ce­rita­kan oleh Abdullah Az-Zanjani dalam kitab Tarikh Al-Quran “… ke­mu­dian Ziad meme­rintahkan se­seorang untuk meng­hadang ja­lan Abu Aswad. Pada saat orang itu dekat de­ngan Abu Aswad, ia mengangkat suaranya keras-keras—agar suaranya didengar oleh Abu Aswad—kemudian membaca: Innallaaha barii-un minal musyrikiina wa rusulihi (seharusnya wa rasuluhu). Dengan pembacaan yang salah itu, ayat ini bermakna: Allah berlepas dari kaum musyrikin dan rasul-Nya”. Mendengar pembacaan yang salah ini, Abu Aswad ter­kejut dan berkata, “Bagaimana Allah berlepas dari Rasul-Nya?” Segera Abu Aswad me­nemui Ziad dan berkata, “Aku ber­sedia me­menuhi per­min­taanmu …”.

PED3 Upaya memper­mudah umat Islam mem­baca Al-Quran terus berlanjut hingga pasca masa Abu Aswad. Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dua orang murid Abu Aswad, Nasr bin Asm Allaitsi dan Yahya bin Ya’mar Al-Adwani, memberi tanda titik untuk menghindari kesalahan membedakan huruf fa dan qa, atau zai dan ra, dst.

Tentang usaha dua murid Ad-Duwali ini, Az-Zanjani menulis: “Umumnya umat Islam pada waktu itu tidak menyukai kalau ada yang menambahkan sesuatu pada mushaf Utsman sekalipun untuk perbaikan.”

Tentang inovasi ini, kami juga meminta pendapat dari pakar Al-Quran, M. Quraish Shihab. Dalam sambutannya untuk ilma, beliau menulis:

“… memang kita semua—baik penerbit maupun pakar yang berkecimpung dalam PSQ—menyadari sepenuhnya bahwa penyajian Al-Quran dengan penuh warna ini merupakan sesuatu yang baru, dapat melahirkan diskusi dan respons yang beragam. Dahulu, Ibrahim bin Umar Al-Biqa’i (1406-1490) pernah menulis sesuatu yang baru pada masanya, yakni menyelipkan di sela-sela kalimat Al-Quran kalimat kalimat susunannya untuk memperjelas kalimat Al-Quran. Walaupun ulama besar itu membedakan penulisan antara kalimat Al-Quran dan penulisan kalimat susunannya, namun sementara ulama menolak idenya itu. Namun, pada akhirnya diterima juga, maka terbitlah buku tafsirnya bernama, Nadzm Ad-Durar fii Tanasub al-Ayat wa Suwar yang dinilai oleh para pakar sebagai ensiklopedia yang menjelaskan keserasian hubungan antarkalimat ayat-ayat dan surah-surah Al-Quran.”

Inovasi umat Islam untuk memulia­kan Al-Quran terus berlanjut dengan ben­tuk beragam. Dari segi artistik, umat Islam terus berupaya menghiasi Al-Quran dengan orna­men dan iluminasi dengan co­rak yang sangat be­ragam. Seperti juga yang dilakukan umat Islam Indonesia de­ngan “Mushaf Istiq­lal”, yang memuat iluminasi berdasarkan keka­yaan visual tra­disi­onal Nusantara. Dalam segi pe­­makna­an, sejumlah ulama dari generasi ke gene­rasi terus menghasil­kan kitab-kitab tafsir. Salah satu tafsir yang menurut kami cukup berani melakukan terobosan adalah Tafsir Al-Jawahir karya Syaikh Thanthawi Jauhari. Selain meng­gunakan bahasa verbal, Than­thawi Jauhari juga menggunakan bahasa visual. Jika membaca kitab ini, kita akan me­nemukan banyak foto dan ilustrasi yang mengiringi setiap penjelasan terhadap suatu ayatnya.

Dari paparan ter­sebut, jelaslah bahwa selama berabad-abad umat Islam melakukan inovasi dalam me­mu­lia­kan Al-Quran de­ngan membuat upa­ya-upaya agar umat lebih mu­dah membaca dan mempelajari Al-Quran. Teks-teks Al-Quran yang suci telah “ber­kolaborasi” dengan sya­kal, titik, tafsir, ter­jemah, iluminasi, dll. Semua itu dilakukan dengan tujuan kebaik­an umat, seperti per­kataan Umar kepada Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.

PED4 Inovasi-inovasi tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk “mencampuradukkan Al-Quran dengan yang bukan Al-Quran” (Baihaqi dan Ibnu Mas’ud berpesan agar tidak mencampuradukkan Al-Quran dengan selain Al-Quran. Saran Baihaqi dan Ibnu Mas’ud ini, jika dilihat konteks kalimatnya adalah untuk menjaga kemurnian Al-Quran—baik dalam pembacaan maupun penulisan­nya—agar tidak tercampur de­ngan teks-teks non-Quran [lihat Al-Itqan, nau’ saadis wa sab’uun]).

 

 

Konsultasi dengan Para Ulama, sebagai Bentuk Kehati-hatian

ILMA adalah sebuah inovasi yang kami rumuskan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kehati-hatian. Ini merupakan bentuk tang­gung jawab agar umat Islam dapat melahirkan generasi Islam yang mencintai Al-Quran. Dalam prosesnya, kami pun sangat berhati-hati dengan berkonsultasi kepada sejumlah ulama. Lebih dari 20 ulama dari berbagai latar belakang, telah kami datangi untuk men­dapat arahan dan nasihat di antaranya adalah: K.H. A. Mustofa Bisri, K.H. A. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. A. Syafii Maarif, Prof. Dr. Dien Syamsudin, K.H. Shiddiq Amien, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, K.H. Didin Hafidudin, Habib Rizieq, dll. (daftar lengkap terlampir).

Kepada mereka, kami mempresentasikan ILMA sehingga mereka mendapatkan gambaran yang lengkap tentang buku ini. Kami men­dapat banyak masukan dan arahan yang sangat berharga untuk proses penggarapan ILMA. Bahkan, Pusat Studi Quran (PSQ) yang dipimpin Ust. Quraish, menanggapi ILMA dengan sangat apresiatif. Beliau me­­ngundang anggota Dewan Pakar PSQ dalam satu forum khusus untuk mendiskusikan ILMA. Pada forum itu, kami (dari redaksi) di­­minta untuk mempresentasikan ILMA, dan kami mendapat banyak masukan yang sangat berarti yang telah kami aplikasikan dalam ILMA ini. Berbagai apresiasi ulama tercermin dalam sambutan, kata pengan­tar atau endorsement yang mereka tulis (pengantar dan endorsement terlampir)

Dalam proses produksi pun kami menerapkan supervisi yang ketat dan berlapis untuk menghindari kesalahan. Khath Al-Quran telah melalui proses pemeriksaan hampir 15 kali pemeriksaan sampai dipastikan tidak ditemukan lagi kesalahan, lalu akhirnya kami serahkan ke lajnah pentashih Al-Quran Depag. Teks penjelasan kandungan ayat (pada bagian pinggir khath) diperiksa melalui tahapan yang berlapis pula. Selain diedit dan diproof oleh redaksi, kami pun meminta pembaca ahli untuk membaca secara detail dan memberi masukan serta arahan.

Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan. Dengan semua latar belakang, konsep, dan proses yang telah ditempuh seperti dijelaskan itu, semoga ILMA ini menjadi sumbangan berharga bagi umat Islam, khususnya bagi anak Islam agar mereka semakin mencintai dan mau mempelajari Al-Quran. Amin.

 
Wabillahi taufiq wal hidayah

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Irfan AmaLee

Editor Kepala ILMA

Dari berbagai sumber dan berkonsultasi dengan tim editor ahli:

K.H. Dr. Miftah Faridl; Dr. Afif Muhammad, M.A.;

Ir. H. Bambang Pranggono, M.B.A.