Perkenalkan, nama saya Furqon. Saya adalah seorang Book Advisor
di PT Mizan Dian Semesta (MDS) Surabaya. MDS adalah salah satu anak
perusahaan GRUP MIZAN yang bergerak di penjualan langsung (direct
selling) buku-buku eksklusif. Dengan program LIFE LONG LEARNING, MDS
siap membantu setiap keluarga muslim untuk menciptakan budaya
belajar di rumah dan mengembangkan IQ, EQ dan SQ.
bapak-Ibu, sebelum menjelaskan program yang akan kami tawarkan, saya ingin berbagi
data-data yang sudah banyak dirilis:
- Hasil penelitian PERC
2001: Kualitas pendidikan Indonesia ada di urutan 12 dari 12
negara di Asia yang diteliti.
- Hasil penelitian IEA
2000: Kemampuan membaca siswa SD, Indonesia ada di urutan 38
dari 39 negara yang diteliti (terendah diantara negara-negara
ASEAN).
- Hasil penelitian UNDP 2004: Index pembangunan
manusia, Indonesia ada diurutan 111 dari negara-negara yang
ada di dunia ini. Jauh di bawah Malaysia yang diurutan 58,
Thailand (76), bahkan Filipina (83).
Ada peringkat yang nomor satu diraih
Indonesia, yaitu: Hasil penelitian PERC
2004, Indonesia ada diurutan nomor 1 untuk ...... CORRUPTION
COUNTRY alias negara paling terkorup di
Asia.
Bapak-Ibu, apa yang akan terjadi 5-10
tahun mendatang bila kita tetap berdiam diri? Akan kian menyedihkan,
bukan? Ini berarti anak-anak kita sebagai generasi penerus harus kita
didik sebaik mungkin baik dari segi intelektual, moral dan tentunya
spiritual.
"Hendaklah mereka
takut kepada Allah jika meninggalkan generasi yang lemah di belakang
mereka,..." (QS. An Nisa : 9 )
"Jika amanah itu
disia-siakan, tunggulah saat kehancuran". (HR Bukhori)
"Didiklah anakmu dan baguskanlah
akhlaqnya". (HR Ibnu Majah)
Apa yang sudah kita lakukan untuk
anak-anak kita?
Cukupkah pendidikan di sekolah menjadi
solusi?
Padahal sebagian besar waktu anak
dihabiskan di rumah. Sejak lahir hingga usia 18 tahun, anak
menghabiskan rata-rata 14% dari waktu hidupnya di sekolah dan 86% di
rumah.
Di sekolah, seorang guru harus
mengayomi sekian banyak murid, sehingga pendidikan yang diterapkan
tidak memperhatikan keragaman individu. Dengan sistem seperti ini,
akan banyak potensi individu yang tidak terbangkitkan, bahkan
terbungkam.
Selain itu, di sekolah, pencapaian
anak diukur dengan angka-angka. Kadang-kadang angka-angka itu tidak
mencerminkan pencapaian anak yang sesungguhnya. Bahkan seringkali
angka-angka itu sama sekali tidak membantu anak dalam kehidupan
nyata.
Jadi jelas, sekolah saja tidak
cukup.
Kalau begitu, apa kegiatan anak-anak
kita di rumah? Bermain playstation, menonton TV, main
petak-umpet, atau membaca buku? Jawabnya audah bisa ditebak.
Banyak survey ditayangkan media, menonton TV menjadi menu wajib
kegiatan anak-anak, termasuk remaja, bahkan Ibu-Ibu dan bapak-bapak.
Jadi, tidak ada kegiatan yang lebih disukai anak-anak di saat longgar
selain menonton TV.
Padahal bapak-Ibu, menurut para
ahli:
Sumber cahaya yang berpendar dari TV
meletakkan belahan otak kiri dan kanan ke dalam gelombang alpha
(slow wave of inactivity) yang merusak keseimbangan dan interaksi
antara belahan otak kiri dan kanan.
Hasil besaran fisik yang
dipancarkan media audio visual elektronik (medan magnet dan
elektrik) masih jauh di bawah ambang yang diijinkan WHO.
Intensitas kebisingan televisi berpengaruh buruk terhadap memori
jangka pendek, kemampuan membaca dan konsentrasi.
Gambar-gambar
TV berubah cepat sehingga otak tidak sempat memproses image secara
baik.
Menonton TV lebih dari 4 jam sehari menghambat
perkembangan keterampilan psikomotorik, bahasa dan sosial anak (The
American Academy of Pedriatics)
Survei Depkominfo menunjukkan
program acara pendidikan di televisi hanya menempati 0,07 persen,
sinetron 30,74 persen, iklan 34,74 persen, berita 15,68 persen dan
film serta hiburan 16,61 persen.
Sejumlah riset
merekomendasikan agar anak-anak di bawah usia dua tahun tidak
menonton televisi sama sekali dan agar anak-anak yang lebih tua
menonton televisi tidak lebih dari dua jam sehari (The American
Academy of Pedriatics)
Pantas saja, kalau kemudian ada orang
tua yang sangat sadar akan bahaya TV bagi anak, lalu TV yang baru
dibeli itu, dibungkus lagi!!
Bandingkan dengan berbagai
keistimewaan membaca:
Membaca membantu
meningkatkan kemampuan konsentrasi.
Berbeda dengan menonton
yang cenderung pasif, membaca mengaktivasi kemampuan berpikir dan
menganalisis.
Membaca menstimulasi rasa ingin tahu
(kuriositas).
Membaca memberi peluang lebih luas untuk
menstimulasi imajinasi.
Membaca memberi rangsangan paling
kompleks bagi otak. Ada delapan aspek yang bekerja pada saat kita
membaca, begitu kata Paul C Burns, Betty D Roe dan Elinor P Ross
dalam bukunya "Teaching reading in today's elementary schools".
Kedelapan aspek tersebut meliputi: sensori, persepsi, sekuensial,
pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Semua bekerja
berbarengan saat kita membaca.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan,..." (QS Al 'Alaq: 1)
Nah,
semua kita pasti sepakat. Sebagai pelengkap pendidikan di sekolah, rumah pun
harus kita desain sebagai pusat belajar. Salah satu caranya yaitu
memberikan bahan-bahan bacaan yang baik dan membatasi menonton TV.
Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi solusi untuk menciptakan generasi
mendatang yang lebih baik.
Bapak Ibu, jangan pernah berpikir bahwa
terlalu banyak membaca akan membuat anak menjadi overload. Atau
takut otaknya "kepenuhan". Mari kita perhatikan fakta tentang otak berikut
ini:
Bapak-Ibu, tahukah Anda tentang
kapasitas otak manusia?
100 milyar neuron
1.000.000.000.000 sel glial
1.000
trilyun titik sambungan sinaptik
280 kuintiliun memori
sebanding dengan 500 ensiklopedia
Namun rata-rata baru dipakai kurang dari 1%
dari potensi dan kapasitas otak.
Dari 100
milyar neuron atau sel syaraf aktif, masing-masing neuron itu
memiliki hingga 20.000 koneksi. Sambungan sel saraf aktif akan mati
jika tidak dirangsang. Sebaliknya, semakin banyak dirangsang,
sambungan sel saraf aktif akan terus berkembang.
MODEL OTAK YANG TIDAK DIRANGSANG, DENGAN
SEDIKIT KONEKSI YANG BERINTERAKSI
OTAK YANG KAYA AKAN KONEKSI, BERKAT
RANGSANGAN AKTIVITAS
Sahabat, meski kegiatan membaca
mempunyai manfaat yang luar biasa, tetapi bahan bacaan apa yang kita
berikan tidak kalah pentingnya, dan sayangnya tidak setiap buku yang
kelihatannya bagus, benar-benar bermanfaat bagi anak. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat
mempengaruhi cara berpikir, bersikap dan bertindak seorang anak.
Tentunya hal ini harus benar-benar diperhatikan mengingat
usia-usia mereka merupakan masa paling strategis untuk membangun
fondasi kepribadian, paradigma berpikir, bersikap dan bertindak.
Bapak-Ibu, kami dari MDS menghadirkan
produk-produk bermutu dalam konsep "MUSLIM FAMILY LIFE LONG LEARNING
PROGRAM". Konsep ini akan membantu keluarga muslim untuk menjadikan
rumah sebagai pusat kegiatan belajar dengan menyediakan buku-buku
bermutu sebagai sarana pembelajaran yang maksimal dan terpadu (mulai
dari 0 tahun hingga dewasa).
"Utlubul Ilma
minal mahdi ilal lahdi" tuntutlah ilmu
sejak dalam buaian hingga liang lahad
MDS mengemban visi dan misi untuk ikut
mengembangkan potensi manusia secara terpadu, yaitu pengembangan IQ,
EQ dan SQ yang diimplementasikan dalam content, performance dan
pengayaan elemen produk.
Pada prinsipnya keunggulan
produk-produk anak muslim MDS adalah sebagai berikut:
1.
Menanamkan pemahaman-pemahaman
dasar yang sangat penting (kemandirian, nilai-nilai spiritual,
EQ dan SQ) pada anak sejak balita.
2.
Merangsang anak untuk
menyukai buku dan ilmu pengetahuan.
3.
Disajikan dalam
kerangka tauhid (menggabungkan pengetahuan dan agama)
4.
Memaksimalkan seluruh
potensi kecerdasan (IQ, SQ dan EQ)
Beberapa contoh produk kami
dapat dilihat di bawah ini. Silahkan klik pada nama produk untuk melihat
info lebih lengkap.
Untuk melihat preview singkat, silakan di-klik juaga video YouTube di bawah ini :
Preview singkat Ensiklopedi Bocah Muslim (EBM)